Big life changes can be scary, especially if you are just settling into motherhood. Pengalaman saya menjadi seorang ibu, begitu menakutkan tetapi sekaligus begitu indah. Begitu menakutkan karena pada awal sejak kehamilan, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Begitu indah karena saya rela menukar jiwa dan raga saya, hanya untuk Dia.

Menjadi ibu adalah hal yang didamba-dambakan hampir semua wanita. Belum terlintas di benak saya, akan secepat ini. Cepat yang kata kebanyakan orang di sekeliling, waktu saya adalah terlambat. Apapun  itu, ya, saya harus menghadapinya. Demi Dia.

Trimester pertama, saya lalui dengan penuh perjuangan, mual muntah berlebihan yang tidak pernah saya alami dalam hidup saya, tidak sanggup beraktivitas seperti biasa, menjadi seorang ringkih yang butuh bantuan orang lain. Tetapi saya menikmatinya. Trimester kedua dan ketiga, saya lalui dengan lebih baik. Berdekatan dengan suami dan menjalani hari-hari dengan Dia.

Mendekati waktu kelahiran Dia di dunia, saya cemas, dan tidak sabar menunggu. Bagaimana rupa Dia, apa yang harus saya lakukan untuk Dia, dan lain-lain.

Hingga tiba saatnya, kelahiran. Adalah moment yang sangat menakjubkan. It was magical moment I could not describe. My tears went down when I look into her eyes, not because I was sad, it was because I was too happy I finally met Her. Melihat mata indahnya, menggenggam jemari kecilnya, memeluk tubuh mungilnya, mencium wangi tubuhnya. What have I done, so that I deserve Her?

Hingga hari-hari setelahnya, saya sungguh tidak pernah membayangkan, akan seindah ini menjadi seorang ibu. Diantara sekian kerepotan dan kekesalan menjadi ibu, saya sangat menikmati. Terima kasih Tuhan, telah Kau berikan kami kesempatan, telah Kau titipkan Dia dalam rahimku, telah Kau percayakan Dia kepada kami untuk kami didik dan kami sayangi. Sungguh apapun rela kulakukan untuk Dia. My Kanaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *