”Do not save what is left after spending, but spend what is left after saving.’– Warren Buffet

Menabung. Satu arti kata yang penting apabila kita sudah mempunyai tanggung jawab, sudah menikah, sudah mempunyai anak. Terkadang, saat kita sudah bekerja dan masih single, kita bisa seenaknya menghabiskan gaji yang baru diterima di awal bulan, berfoya-foya sampai ketika di tengah bulan kita kaget melihat rekening sudah hampir habis, dan bokek di akhir bulan. Kita tidak ambil pusing dengan tidak adanya financial planning karena toh kita tidak punya tanggung jawab, tidak ada yang melarang kita mau beli ini-itu, ana-anu, semua yang kita sukai bebas kita beli, apapun itu semahal apapun itu, asal masih ada uang di rekening. Toh kita juga masih akan terima gaji lagi bulan depan.

Sayapun pernah menagalami fase itu. Euforia saat baru pertama kali terima gaji, bebas membeli apapun yang saya mau. Memang saya selalu menyisihkan uang untuk menabung dan membeli barang bernilai, tapi ternyata itu tidak cukup, karena tabungan saya hanya berapa persen dari total gaji saya. In the end, walaupun penghasilan saya lebih dari cukup, saving saya tidak terlalu banyak.

Suatu ketika, saya  membaca sebuah blog yang menceritakan bahwa betapa borosnya kita sebagai manusia perkotaan, never enough of everything we have, setiap melihat isi lemari selalu ada yang kurang-baju, sepatu, accesories, setiap melihat toko dengan brand favorit selalu ingin membeli, bahkan ketika niat hanya untuk window shopping pun selalu teringat-ingat dan ingin segera membeli. Betapa manusia selalu tidak pernah cukup.

Saya kemudian tersadar, betapa banyaknya barang saya yang jarang dipakai, hanya sekali dipakai, bahkan tidak pernah terpakai. Ketika melihat isi wardrobe, ternyata hanya itu-itu saja barang yang sering saya pakai. Setiap tahun saya memang sering melakukan ”cuci gudang” di mana saya memilah barang yang tetap saya simpan dan yang saya donasikan atau buang. Tapi ternyata, banyak sekali dari barang simpanan yang jarang saya pakai. Konsumtif sekali.

Walaupun kalau dibandingkan teman atau kolega, saya termasuk orang yang hemat dan jarang berbelanja barang mewah, tetap saja saya merasa begitu banyaknya barang yang saya punya. Entah kenapa saat itu saya merasa sebagai manusia saya terlalu berlebihan, beli ini-itu kadang tidak berguna, beli sesuatu yang tujuannya hanya untuk ‘‘self satisfaction” padahal tidak terlalu saya butuhkan. Seketika itu, saya merasa menyesal dan entah kenapa I feel sick, merasa bahwa saya harus berubah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *