Knowledge is power but character is more

My dear Daughter, 

Knowledge is power but character is more.

If you are real smart, you won’t say and tell the world ”I am smart”, instead you will say ”I need to learn more”, be humble and kind-hearted. Stay down to earth but firm in your achievements.

If you are right, don’t judge and teach others how to behave or how to live their life, tolerate and respect others. Show respect even to people who don’t deserve it, not as reflection of their character but as a reflection of yours.

If you are wrong, apologize and admit it, heads up and learn from your mistakes, be brave and sincere. To have a big heart showed your greatest quality. 

If you don’t do what others have accused you, don’t be defensive or say something bad, it only shows your level of dignity, be a person with attitude and class. You may want to fight back, but don’t prove your unjust characterizations or false accusation by quick response. Allow the anger to subside, keep calm and control your emotion.

Don’t overbearing of everything you have, instead be delighted and grateful for what you’ve accomplished. Everything you have in this world is not completely yours. 

Be proud, but not arrogant.

Be encourage, but not envious.

Be inspired, but do not copy.

Be influenced, but do not steal.

I ain’t better than anybody. I ain’t say I’m always right. The truth, I’ve learned so much from you since the very beginning you were in my womb. Learn something good and throw everything bad from me. I’m not a perfect mother, but I promise I will try my best to be a good example for you.

Settling into Motherhood

Big life changes can be scary, especially if you are just settling into motherhood. Pengalaman saya menjadi seorang ibu, begitu menakutkan tetapi sekaligus begitu indah. Begitu menakutkan karena pada awal sejak kehamilan, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Begitu indah karena saya rela menukar jiwa dan raga saya, hanya untuk Dia.

Menjadi ibu adalah hal yang didamba-dambakan hampir semua wanita. Belum terlintas di benak saya, akan secepat ini. Cepat yang kata kebanyakan orang di sekeliling, waktu saya adalah terlambat. Apapun  itu, ya, saya harus menghadapinya. Demi Dia.

Trimester pertama, saya lalui dengan penuh perjuangan, mual muntah berlebihan yang tidak pernah saya alami dalam hidup saya, tidak sanggup beraktivitas seperti biasa, menjadi seorang ringkih yang butuh bantuan orang lain. Tetapi saya menikmatinya. Trimester kedua dan ketiga, saya lalui dengan lebih baik. Berdekatan dengan suami dan menjalani hari-hari dengan Dia.

Mendekati waktu kelahiran Dia di dunia, saya cemas, dan tidak sabar menunggu. Bagaimana rupa Dia, apa yang harus saya lakukan untuk Dia, dan lain-lain.

Hingga tiba saatnya, kelahiran. Adalah moment yang sangat menakjubkan. It was magical moment I could not describe. My tears went down when I look into her eyes, not because I was sad, it was because I was too happy I finally met Her. Melihat mata indahnya, menggenggam jemari kecilnya, memeluk tubuh mungilnya, mencium wangi tubuhnya. What have I done, so that I deserve Her?

Hingga hari-hari setelahnya, saya sungguh tidak pernah membayangkan, akan seindah ini menjadi seorang ibu. Diantara sekian kerepotan dan kekesalan menjadi ibu, saya sangat menikmati. Terima kasih Tuhan, telah Kau berikan kami kesempatan, telah Kau titipkan Dia dalam rahimku, telah Kau percayakan Dia kepada kami untuk kami didik dan kami sayangi. Sungguh apapun rela kulakukan untuk Dia. My Kanaya.