Anak

Dan seorang perempuan yang menggendong bayi dalam dekapan dadanya berkata; Bicaralah pada kami perihal Anak.

Dan dia berkata:

Anakmu bukanlah anakmu
Mereka putra-putri kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri
Mereka datang melalui engkau tapi bukan dari engkau
Dan walau mereka ada bersamamu tapi mereka bukan kepunyaanmu

Kau dapat memberi mereka cinta-kasihmu tapi tidak pikiranmu
Sebab mereka memiliki pikirannya sendiri
Kau bisa merumahkan tubuhnya tapi tidak jiwanya
Sebab jiwa mereka bermukim di rumah masa depan, yang tiada dapat kausambangi, bahkan tidak dalam impian-impianmu

Kau boleh berusaha menjadi seumpama mereka, tapi jangan berusaha membuat mereka seperti dirimu
Sebab kehidupan tiada surut ke belakang, pun tiada tinggal bersama hari kemarin
Engkaulah busur dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur

Sang Pemanah membidik tanda sasaran di atas jalan nan tiada terhingga, dan Dia menekukkan engkau dengan kekuasaan-Nya agar anak panah-Nya dapat melesat cepat dan jauh

Meliuklah dengan riang di tangan Sang Pemanah

Sebab sebagaimana Dia mengasihi anak panah yang melesat, demikian pula Dia mengasihi busur nan mantap

(Kahlil Gibran)

Perfect in imperfection

I’ve gone through times when I really didn’t feel good inside about myself.
I used to push myself as perfect as everyone thought.
I used to not accept the side of me in imperfection.

I hated everything untidy.
I checked every single thing many times to not let any chance of making tiny hole.
I kept unfinished things so long to wait until everything in the version of my perfection.
I was so hard to handle and made things complicated.
I kept thinking about what has happened and mistakes I’ve done that I should have not done.
I felt worry about the future and how things would be.

I used to think that the way to be strong was to be though.
I used to think the way to be independent was to not need anyone.
I pretend to be strong, in fact that I was not.
I pretend to be independent, in fact that I felt lonely and needed help.

I have been hoped that nothing would have failed.
I have been thought that everyone would see me in a way I hoped they would have seen me.
I have been down so deep and no one pulled me back.
I missed my life, in fact I missed myself.

You’ve changed my point of view on how it should be to love myself.
You’ve showed me on how to not worry about what other people think about me.

”Nothing is wrong to be not perfect, fix it as you go.
The world will not be going to end, everything’s gonna be great.. not just ok.
Nothing to worry as long as I’m with you.”

You made me realize that I am perfect just the way I am.
Thank you for showing me your version of perfection.

Labirin Malam

 

Absurditas dari kejadian malam itu menyadarkan Darius betapa mustahil untuk tetap menjaga jarak. Kekuatan alam punya cara untuk melemparkan seseorang ke dalam pusaran berbagai kejadian yang tak mungkin dia elakkan. Ia sama sekali tak bisa memilih. Pilihan itu dipaksakan kepadanya. Ia tak punya pilihan lain kecuali menerima. Sesaat ia merasa dirinya seperti penerima takdir yang serba ragu. Serpih-serpih kehidupannya yang lepas-lepas telah berkembang tak terkendali dan perlahan-lahan memerangkapnya dalam jerat-jerat yang rumit. (Labirin Malam: Sebuah novel by Richard Oh)

Dan malam sunyi itu berubah menghasilkan titik-titik basah yang menetes tak henti-henti.
Aku rindu kebebasanku. Aku benci keangkuhanmu.
Keberusahaanku bertahan haruskah berakhir sia-sia?
Aku ingin lebih mengerti. Dan tak ingin sekalipun tiba-tiba dihinggapi keraguan.
Tolong bantu aku. Aku tak bisa berusaha sendiri. Aku tak bisa mengerti sendiri.
Kita baik-baik saja kan? Mungkin iya, tapi rasa ini untukmu perlahan terkikis pudar.
Lalu apa artinya saling memiliki jika kamu milik dirimu sendiri?
Coba pikir dengan logikamu dan rasakan dengan hatimu.
Kamu tak pernah mendengar walau aku berteriak.
Kamu tak pernah merasa walau aku teriris sakit, terhujam amarahmu.
Susah payah aku coba berdiri, kamu jatuhkan aku lagi dan lagi.
Aku terlalu terperangkap di dalammu, termakan ambisi dan mimpimu.
Tidak apalah, pilihanku tak banyak, coba lagi atau berjalan pergi.
Kamu tahu dengan pasti aku seorang peragu, maka yakinkan aku akan takdirku.

(Berlin, 1st April ’11 – Gratitude of my destiny)

Cermin

Dia berkaca lagi dan lagi, namun yang dilihatnya tetap sama.
Berpuluh, beratus, beribu, berjuta kali, berulang-ulang, namun tetap sama.
Dikulitinya wajah itu, ”Ini hanyalah wajah kesombongan” pikirnya.
Dikeratnya satu persatu keangkuhan yang menutupi kulit luarnya.
Dihabisinya sosok ketamakan yang selalu menghantuinya.

Dia masih terpaku dan berkaca.
Dia masih berpikir ”Mengapa masih tetap sama?”
”Ini terlalu mudah, terlalu mengada-ada.”
”Mengapa mata batin mereka masih saja buta?”
”Haruskah aku menjadi orang lain,  inikah peranku?”

Dipandanginya seinci demi seinci, dilihatnya keriput bergelayut diujung matanya.
”Cermin ini telah berbohong, atau aku yang terlalu naif?”
”Mereka bilang aku sempurna?” dan diapun tertawa, terbahak, sampai tersedak.
”Asal anda-anda ketahui, aku ini hanya hina…”

Dan dipasangnya lagi wajahnya yang lain.
Kali ini sesosok wajah yang berbeda, yang tak pernah ditunjukkan sebelumnya, pada siapapun.
Wajah yang tanpa wajah.
”Biar mereka tau, aku ini hanya manusia biasa.”

Dan diapun berjalan ke kerumunan orang, tanpa sehelai kulitpun.
”Biar aku dibilang tak tau malu.”
”Biar mereka lihat urat-urat yang timbul diwajahku.”

Ternyata tak ada yang peduli.
Dia hanya satu diantara sekian banyak yang seperti itu.
”Lalu apa bedanya? Berjalan dengan atau tanpa wajah?”
”Yang membedakan hanyalah isi hatimu” seseorang berbisik.
Diambilnya cermin kecil disisipan sakunya.
Dia berkaca lagi, namun yang dilihatnya tetap sama.
Berulang-ulang, namun tetap sama.

Dan jika…

… I love you like a fat kid loves cake ...

 

Dan jika legam sepi menghujam sukmamu, kan kujamah relung hatimu dengan sinarku…
Dan jika airmata derita merontokkan harapanmu, kan kubasuh nestapamu dengan darahku…
Dan jika mulut-mulut congkak meriuhkan kebusukanmu, kan kusumpal gerahamnya sampai berhenti ocehannya…
Dan jika bilur masa lalu menghanguskan impianmu, kan kuwujudkan mimpi baru dalam titian kebahagiaan…
Kan kugantikan kepiluanmu dengan ketentraman…
Kan kupenuhi kehampaanmu dengan kasih…
Kan selalu ada pelangi disetiap kelabumu, karena aku kan selalu mewarnaimu…
Kan selalu ada keajaiban disetiap kesakitanmu, karena aku kan selalu menyembuhkanmu…

Fly away and high…

 

Fly fly away and high

When aches and pain and sorrow and fear are the only friends

Open your wings and feel the air of universe

Fly fly away and high

Breathe the scented freedom in your lungs

Open your eyes and embrace the life

Fly fly away and high

Through the dimension where you can’t find any misery

nor hurts that eat your heart and brain

I amsterdam

I amsterdam in rainy days…

I walk while holding my umbrella waiting for the train in the central station…

Hectic… too crowded to breathe…

I see white and black and brown and nerd and fashionable…

People walk fast… run…

People ride a bike in a rush…

I smell fries with mayo and Indonesian foods…

Women in bikinis stand behind red lighted windows selling pleasure you can’t imagine…

You can be yourself… Without fear…

I can see freedom in everybody’s eyes…

I swim into the canals until I freeze in the coffeeshop…

My body can’t move…

My mind can’t think…

I am stoned and high…

I amsterdam…