Big people talk about ideas, average people talk about things, small people talk about other people.

Never let anybody’s opinion define who you are. Be free, let go.

I believe that everything happens for a reason. People change so that you can learn to let go. Things go wrong so that you appreciate them when they’re right. You believe lies so you eventually learn to trust no one but yourself. And sometimes good things fall apart so better things can fall together. Sometimes you have to smile, and act like everything is okay, hold back the tears and walk away.

The Way I love You

Sonnet XVII

“I do not love you as if you were salt-rose, or topaz,
or the arrow of carnations the fire shoots off.
I love you as certain dark things are to be loved,
in secret, between the shadow and the soul.

I love you as the plant that never blooms
but carries in itself the light of hidden flowers;
thanks to your love a certain solid fragrance,
risen from the earth, lives darkly in my body.

I love you without knowing how, or when, or from where.
I love you straightforwardly, without complexities or pride;
so I love you because I know no other way than this:

where I does not exist, nor you,
so close that your hand on my chest is my hand,
so close that your eyes close as I fall asleep.”

— Pablo Neruda

Aku sudah pernah dihapus (dari kehidupan seseorang)

“Aku sudah pernah dihapus (dari kehidupan seseorang), dan aku tahu rasanya menghapus seseorang. Kamu tahu ketika kamu mencintai seseorang, dan itu berakhir, dan kamu merasa seolah-olah mereka telah melanjutkan hidupnya, atau bahkan tidak pernah? Rasanya mengerikan.”

“Tapi semua yang terjadi dalam hidupku datang dengan alasan, untuk membuatku berada di tingkat yang lebih tinggi, dan membuatku belajar. Setiap hubungan telah membawaku sedikit lebih dekat untuk mewujudkan apa yang aku inginkan dan apa yang tidak aku inginkan, dan mengajariku nilai sebuah cinta.”

By Jim Carrey – actor, comedian, singer, writer.

*Di translate dari versi original (English version)

Leben und leben lassen…

“Sometimes our light goes out, but is blown again into instant flame by an encounter with another human being.” ― Albert Schweitzer

Live the life you love, love the life you live! Leben und leben lassen… Es wird schön werden.. Es wird sich schon finden! :’)

Delicious Ambiguity

“I wanted a perfect ending. Now I’ve learned, the hard way, that some poems don’t rhyme, and some stories don’t have a clear beginning, middle, and end. Life is about not knowing, having to change, taking the moment and making the best of it, without knowing what’s going to happen next. Delicious Ambiguity.” ― Gilda Radner

Cermin

Dia berkaca lagi dan lagi, namun yang dilihatnya tetap sama.
Berpuluh, beratus, beribu, berjuta kali, berulang-ulang, namun tetap sama.
Dikulitinya wajah itu, ”Ini hanyalah wajah kesombongan” pikirnya.
Dikeratnya satu persatu keangkuhan yang menutupi kulit luarnya.
Dihabisinya sosok ketamakan yang selalu menghantuinya.

Dia masih terpaku dan berkaca.
Dia masih berpikir ”Mengapa masih tetap sama?”
”Ini terlalu mudah, terlalu mengada-ada.”
”Mengapa mata batin mereka masih saja buta?”
”Haruskah aku menjadi orang lain,  inikah peranku?”

Dipandanginya seinci demi seinci, dilihatnya keriput bergelayut diujung matanya.
”Cermin ini telah berbohong, atau aku yang terlalu naif?”
”Mereka bilang aku sempurna?” dan diapun tertawa, terbahak, sampai tersedak.
”Asal anda-anda ketahui, aku ini hanya hina…”

Dan dipasangnya lagi wajahnya yang lain.
Kali ini sesosok wajah yang berbeda, yang tak pernah ditunjukkan sebelumnya, pada siapapun.
Wajah yang tanpa wajah.
”Biar mereka tau, aku ini hanya manusia biasa.”

Dan diapun berjalan ke kerumunan orang, tanpa sehelai kulitpun.
”Biar aku dibilang tak tau malu.”
”Biar mereka lihat urat-urat yang timbul diwajahku.”

Ternyata tak ada yang peduli.
Dia hanya satu diantara sekian banyak yang seperti itu.
”Lalu apa bedanya? Berjalan dengan atau tanpa wajah?”
”Yang membedakan hanyalah isi hatimu” seseorang berbisik.
Diambilnya cermin kecil disisipan sakunya.
Dia berkaca lagi, namun yang dilihatnya tetap sama.
Berulang-ulang, namun tetap sama.